Rabu, 01 November 2017

Sabtu, 28 Oktober 2017

Bermainlah bersama anak2 Surga lainnya ya dede Nandita

Cerita Pilu Nandita, Bocah Penderita Leukemia AML yang Meninggal Usai Bertemu Idolanya, Adly Fairuz

Kamis, 26 Oktober 2017

Ancaman Azab Berdiam Diri Terhadap Kemungkaran


 Ancaman Azab Berdiam Diri Terhadap Kemungkaran (Tafsir QS. Al-Anfaal [8]: 25)


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25)
Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah[1], yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak. Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.[2]
At-Thabari (w. 310 H) menyampaikan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”[3] Dalam tafsir al-Baghawi (w. 510 H), ada tambahan redaksi terhadap pernyataan Ibn ‘Abbas ini, yaitu: “yang akan menimpa orang yang berlaku zalim dan yang tidak.”[4]
Sebagian mufassir dari kalangan tabi’in mengkhususkan ayat ini hanya untuk sebagian kalangan shahabat saja, seperti yang dinyatakan oleh as-Suddi dan al-Hasan. As-Suddi berkata bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang terlibat dalam Perang Jamal. Sedangkan al-Hasan lebih jelas lagi menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ‘Ali, ‘Utsman, Thalhah dan Zubair rahmatullahi ‘alaihim.[5] Dalam salah satu riwayat, Ibn ‘Abbas juga menyatakan bahwa ayat ini turun tentang para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[6]

Namun, Mujahid menyatakan bahwa ayat ini juga berlaku untuk yang lain. Demikian juga menurut adh-Dhahhak, Yazid ibn Abi Habib, dan lainnya. Ibn Mas’ud berkata: “Tidak ada salah seorang pun dari kalian kecuali ia terkena fitnah. Allah ta’ala berfirman: innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah (sesungguhnya harta dan anak-anak kalian merupakan fitnah) (at-Taghabun [64]: 15), maka berlindunglah kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”[7]

Oleh karena itu, Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini berlaku untuk para shahabat dan selain mereka.[8] Ini juga yang menjadi pendapat faqih dan mufassir kontemporer, az-Zuhaili.[9]

Dari penjelasan di atas, cukup jelas bagi kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada orang-orang beriman, orang-orang yang tidak suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa yang mereka lakukan tidak cukup untuk menyelamatkan diri mereka dari bencana, jika mereka tetap membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar mereka.

Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa (dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain)[10], kullu nafsin bimaa kasabat rahiinah (tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya)[11], dan lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa ma(a) (i)ktasabat (baginya pahala atas (kebaikan) yang dilakukannya, dan untuknya siksa karena (kejahatan) yang dilakukannya)[12], dan ini berarti seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, seseorang hanya akan disiksa akibat perbuatan dosanya sendiri. Maka, menurut al-Qurthubi (w. 671 H), jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.[13]

Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ


Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.”[14]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا


Artinya: “Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.”[15]

Hadits di atas menunjukkan pentingnya aktivitas al-amr bil ma’ruf dan an-nahy ‘anil munkar, jika umat Islam senantiasa melaksanakan aktivitas ini, niscaya umat ini akan selamat, dan sebaliknya jika tidak dilakukan, umat ini akan binasa secara keseluruhan, baik pelaku maksiat secara langsung maupun yang ridha dan membiarkan aktivitas mereka.

Allah bahkan mengancam orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan Rasul-Nya sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ


Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan hukuman atas kalian (karena meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar), kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan-Nya.”[16]

***

Kenyataannya, saat ini kemungkaran begitu jelas terlihat di depan mata kita. Berbagai macam kemaksiatan seperti ekonomi ribawi, pornografi dan pornoaksi , serta berbagai pemikiran merusak semisal pluralisme dan liberalisme begitu nyata dijajakan di hadapan kita. Penguasa, yang seharusnya melindungi umat dari kemungkaran, malah menjadi pelindung utama kemungkaran tersebut. Di sisi lain, umat Islam semakin terhimpit kemiskinan dan kesulitan hidup sistemik akibat diterapkannya undang-undang dan peraturan yang tidak Islami.

Bahkan, bisa dikatakan saat ini merupakan periode terburuk yang dialami oleh umat Islam. Seburuk-buruknya masa lalu, saat Negara Islam masih tegak, kemungkaran hanya terjadi pada skala individu atau kelompok kecil, paling banter kemungkaran dilakukan oleh sebagian penguasa korup, tanpa meluas ke tengah masyarakat. Sedangkan saat ini, korupsi penguasa dilakukan dari tingkat pusat sampai daerah, minuman keras dan narkoba menyebar di tengah masyarakat, pornografi dan pornoaksi menjadi tontonan tiap hari, ekonomi ribawi menggurita dan menjadi penopang utama ekonomi bangsa ini, kerusakan moral terlihat di mana-mana, dan banyak keburukan lainnya yang bisa kita saksikan dan baca dari berbagai media tiap harinya.

Jika kita jernih memandang hal ini, kita akan temukan bahwa akar masalah dari berbagai kemungkaran yang disebutkan di atas adalah tidak dijadikannya Syariah Islam, aturan yang diturunkan oleh Allah ta’ala bagi manusia, sebagai hukum formal pada seluruh aspek kehidupan. Seandainya Syariah Islam diterapkan sepenuhnya –tanpa kecuali– atas dasar keimanan kepada Allah ta’ala, tentu kemungkaran bisa dikikis habis. Sebaliknya, jika Syariah Islam diabaikan, kemungkaran akan terus menggurita dan merusak seluruh sendi kehidupan kita.

Pada kondisi seperti sekarang ini, diam berpangku tangan atas tidak diterapkannya Syariah Islam merupakan sebuah kemaksiatan, bahkan kemaksiatan yang amat besar. Jika semua orang yang mengetahui hal ini diam dan terus membiarkan kemungkaran ini, tanpa berupaya mengubahnya, maka bencana akan menimpa umat ini secara keseluruhan. Na’udzubillahi min dzalik.
Abu Furqan al-Banjary

Catatan Kaki:
[1] Seringkali orang salah memahami makna fitnah yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Fitnah yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah maknanya beragam, kadang maksudnya ujian, kadang bencana dan kerusakan, kadang juga dipahami sebagai azab, dan kadang dengan makna yang lain.
[2] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz 4 (Riyadh: Daar Thayyibah, 1999), hlm. 37.
[3] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 13 (t.tp: Muassasah ar-Risalah, 2000), hlm. 474.
[4] Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Juz 2 (Beirut: Dar Ihya at-Turats’ al-‘Arabi, 1420 H), hlm. 283.
[5] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 13, hlm. 473-474.
[6] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz 4, hlm. 38.
[7] Ibid., hlm. 38.
[8] Ibid., hlm. 38.
[9] Az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj, Juz 9 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H), hlm. 292.
[10] Disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an, yaitu pada: QS. Al-An’aam [6]: 164; QS. Al-Israa’ [17]: 15; QS. Faathir [35]: 18; dan QS. Az-Zumar [39]: 7.
[11] QS. Al-Muddatstsir [74]: 38.
[12] QS. Al-Baqarah [2]: 286.
[13] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 7 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), hlm. 393.
[14] Diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim, Juz 1 (Beirut: Dar Ihya at-Turats, t.t), hlm. 69, hadits no. 78. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud ath-Thayalisi, Ibn Hibban, al-Baihaqi, dan yang lainnya dengan redaksi masing-masing.
[15] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 3 (t.tp: Dar Thauq an-Najah, 1422 H), hlm. 139, hadits no. 2493. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Hibban, ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan yang lainnya dengan redaksi masing-masing.
[16] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Juz 4 (Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1975), hlm. 468, hadits no. 2169. At-Tirmidzi berkata: ‘hadits ini hasan’. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan yang lainnya dengan redaksi masing-masing.

Rabu, 04 Desember 2013

HIMBAUAN FATWA PARA HABAIB


HIMBAUAN FATWA PARA HABAIB


Fatwa Habib Ali Alhabsyi ( Sohibul Maulid )Tentang Alawiyin yang menyimpang dari Aqidah salafnya ( Ahlussunnah ) yang dibacakan oleh

cucunya Habib Anis Alhabsyi Solo.


Habib Najib Bin Toha Assegaff ...........

menterjemahkan Kalam Habib Ali Alhabsyi

( Sohibul Maulid ) yang dibacakan oleh

Habib Anis Alhabsyi ( Solo )
Habib Umar bin Muhammad bin Salim Bin Hafid .....Mencintai Ahlul Bait itu tidak dengan mencaci maki dan memusuhi para Sahabat dan Auliya'.... Diterjemahkan oleh Habib Tohir Abdulloh Alkaf


HabibTohir Bin AbdullahAlkaf..............

Indonesia adalah negara Ahlissunnah Waljamaah

Syi'ah Sunni tidak mungkin bergandengan tangan

mustahil mustahiil mustahiiil !


Habib Jindan bin Nauvel Bin Jindan..........

mengatasnamakan Ahlul Bait tapi mendengki mencaci dan mengkafirkan Sahabat Rasul......


Habib Achmad Zein Alkaf...... Menghimbau para ulama agar mengambil sikap tegas terhadap Syiah dan memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai kesesatan Syiah, sebagai pelaksanaan dari perintah Rosululloh SAW.


Habib Taufiq Bin Abdul kadir Assegaf.......

Siapapun meskipun Habaib kalau tidak membawa Ahlussunnah jangan diikuti Sebab ajaran Ahlul Bait atau Habaib adalah Ahlussunnah. Adalah bohong besar kalau ada yang berkata bahwa Habaib bukan Ahlussunnah.....


Habib Ahmad bin Husin Assegaff ( Bangil )

Ahlussunnah, para ulama, para Auliyak semua disingkirkan, karena dia mengikuti Syiah.....

Orang Islam yang mau bekerjasama dengan Syiah,

saya katakan mereka itu berkhianat.....


Habib Novel Alaidrus..... Almuhajir pindah dari Irak yang kaya Ke Hadramaut dikarenakan di Irak timbul fitnah.dan fitnah yang terbesar adalah timbulnya aliran Syiah....Habib yang Syiah bukan Habib dan Habib yang bukan Ahlussunnah bukan Habib


orang-orang yang menjaga, mempertahankan aqidah ahlissunnah waljamaah dipastikan akan mimpi rasulullah SAW.........

dan dijamin asror akan datang..........

Fatwa habib umar bin hafidz tentang syi'ah



الحبيب عمر بن حفيظ الشيعة Habib Umar bin Hafidz selain mengatakan Syiah sesat dan menyesatkan (di Surabaya), juga mengatakan, syiah itu mazhabnya iblis dan mazhabnya pengikut iblis


sayyid muhammad almaliki menceritakan mimpinya

menceritakan mimpinya saya sering di datangi Siti fatimah Azzahro
pada suatu saat saya tidak lagi bermimpi Siti fatimah Azzahro lalu saya keluar dari rumahku dan tertidur di rumah salah satu muritku kemudian saya bermimpi Siti fatimah Azzahro lalu saya tanyakan kepadanya kenapa engkau tidak hadir lagi di rumahku? Maka Siti fatimah Azzahro menjawab saya tidak akan hadir lagi di rumahmu karena di rumahmu ada seorang Syiah. kalau kamu berharap kehadiranku maka usirlah dia> dan sayyid muhammad almaliki bangun dari tidurnya beliau pulang kerumahnya dan mengusir orang Syiah itu.

Hai pemuda-pemuda Syi’ah, berpikirlah terhadap agidah yang kalian ikuti, agidah yang dapat membawa kepada kekufuran. Agidah yang disajikan oleh seorang YAHUDI, dengan harapan pengikutnya keluar dari agama Alloh dan berganti agama baru yang tidak ada hubungannya dengan Islam dan Muslimin.

Marilah kita bersama-sama meninggalkan dan memetieskan kitab-kitab yang telah menghina Kitab Alloh dan Sunnah Nabi, dimana di dalamnya penuh dengan cacian dan laknat melaknat yang di tujukan kepada para Sahabat Rosululloh Saw.
Marilah kita kumandangkan cinta kita kepada Ahlul Bait dengan tidak berlebih-lebihan, karena barang siapa tidak mencintai mereka berarti keluar dari agama.
Sebagai keturunan Imam Ali, kami bersumpah bahwa cinta kami kepada beliau melebihi kalian. Tapi kami tidak akan menempatkan beliau di satu tempat yang bukan tempatnya, serta tidak memberikan sifat ma’shum kepadanya, karena beliau bukan seorang Nabi apalagi Tuhan.
Beliau adalah seorang pemberani dari sekian banyak pemberani yang mendampingi Rosululloh. Beliau adalah ayah dari Al Hasan dan Al Husin
( Sayyidaa Syabaab Ahlul Jannah ), sedang istrinya adalah Siti Fatimah Azzahra
( Sayyidatu Nisaail Aalamin ) , putri Siti Khadijah Al Kubro
( Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah ). Barangsiapa memusuhi mereka, maka sama dengan memusuhi Alloh dan Rosulnya.
Cukuplah kemuliaan dari Alloh pada mereka, dan apakah cinta pada Ahlul Bait harus dibarengi dengan benci kepada para Sahabat serta mengkafirkan Khulafaurrosyidin dan Siti Aisyah ?.
Semoga setelah kalian membaca HIMBAUAN ini , Alloh akan membuka hati kalian dan menyelamatkan kalian dari azab api neraka.
Hanya hidayah dari Alloh yang dapat menunjukkan jalan yang benar, sedang kewajiban seorang utusan hanya menyampaikan.
Wasalamun alal Mursalin walhamdu lillahi Robbil Alamiin.

Senin, 25 November 2013

Syiah dan Kitab-Kitab Perusak Kehormatan Rasulullah (صلى الله عليه و سلم).

Dalam hukum positif yang dianut Indonesia, tindakan mencela agama mayoritas sudah digolongkan ‘religius blemish’ (menodai agama)


Oleh: Abdullah Bin Agil
PADA tahun 2011 kemarin, umat Syi’ah melakukan pemberontakan berdarah di Bahrain, Arab Saudi, dan Yaman yang sebagian besar penduduknya Muslim. Malah di Yaman, para milisi Syi’ah menyerang Ponpes Syekh Muqbil Al Wadiy, yang mengakibatkan beberapa orang santri tewas dan cedera, termasuk santri asal Indonesia.
Di Suriah, selama beberapa dekade—hingga tulisan ini dibuat—pemerintah
yang didominasi salah satu sekte Syi’ah (An Nusairiyah) banyak melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Muslim. Demikian pula di Iran, sejak Revolusi Syi’ah 1979 oleh Khomeini, pemerintah negara beribukota Teheran sangat represif terhadap kaum Sunni.
Seringkali masyarakat awam tak bisa membedakan antara Sunni dan Syiah. Bahkan sebagian besar menganggap sama. Sekilas, identitas dan ritualitas umat kedua agama tidak ada perbedaan. Namun setelah dicermati dengan benar, antara Islam dan Syi’ah terdapat perbedaan yang kontras dari tingkat keyakinan hingga tingkat aplikasi syariat.
Jika ditinjau dari kajian komunikasi dakwah, salah satu akar konflik Islam-Syi’ah adalah sikapnya dalam hal melecehkan pribadi Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), maupun penistaan atas para istri, keluarga, dan sahabat beliau.
Perusakan kehormatan tersebut banyak ditulis pada kitab-kitab karangan pemuka umat Syiah. Banyak kalangan menyebut mereka sebagai ulama Syiah.
Padahal, berdasarkan kitab-kitab imajinatif yang sarat pelecehan atas Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para pemuka Syi’ah telah menunjukkan bahwa mereka tidak takut kepada Allah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan rasul-Nya.
Di bawah ini adalah kitab-kitab yang menjadi rujukan penting kaum Syiah. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Al Anwar an Nu’maniyah
Ni’matullah Al Jazairi adalah tokoh Syi’ah yang paling jahat dalam melecehkan sahabat Umar bin Khattab RA. Di dalam ‘Al Anwar an Nu’maniyah’, tokoh tersebut memfitnah bahwa Umar akan menerima siksaan lebih berat daripada Iblis karena merebut jabatan khalifah dari tangan Ali bin Abu Thalib RA, juga menulis berita bohong kalau ayah mertua Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) itu pernah (maaf) terserang penyakit ‘kotor’.
2. Al Bayan
Jika pendeta Syi’ah yang lain menyerang kehormatan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) melalui keluarga dan sahabat, Abul Qasim Al Kuu’iy justru melecehkan pribadi Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sendiri. Dalam kitab ‘Al Bayan’, pemuka umat Syiah itu menuduh Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menghapus redaksi firman Allah Subhanahu wa-ta'ala tentang keutamaan Ali bin Abu Thalib dalam Surah Al Maa’idah ayat 67.
3. Al Ihtijaj
Seorang pendeta Syi’ah bernama Ahmad bin Manshur Ath Thibrisi, dalam kitabnya ‘Al Ihtijaj’ menuduh para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menghapus ayat-ayat Al Qur’an yang berisi celaan Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) atas mereka, agar wibawa sahabat tidak jatuh di mata umat Islam.
4. Ajma’ul Fadha’ih
Di dalam ‘Ajma’ul Fadha’ih’, Al Mulla Kazhim, salah satu tokoh pengikut Syiah menjanjikan bahwa barangsiapa yang sekali saja melaknat kedua sahabat nabi (Abu Bakar RA dan Umar RA) maka Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) akan memberinya 70 juta kebaikan, menghapuskan 1 juta kejelekan, dan mengangkatnya 70 juta derajat.
5. Ar Raudhah minal Kafi
Seorang tokoh agama Syi’ah, Abu Ja’far Al Kulaini di dalam kitab ‘Ar Raudhah minal Kafi’ memfitnah semua sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah murtad, kecuali 3 orang di antara mereka, yaitu Al Miqdad bin Al Aswad RA, Abu Dzar Al Ghifary RA, dan Salman Al Farisy RA.
6. As Sujud ‘Alaa at Turbah al Huseiniyah
Dalam ‘As Sujud ‘Alaa at Turbah al Huseiniyah’, Asy Syihristani membuat informasi bohong, bahwa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pernah mengatakan kalau Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) hanya menerima shalat orang yang bersujud di atas tanah Karbala, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pernah memerintahkan para wanita Muslimah untuk meratapi jenasah Hamzah bin Abdul Muthalib RA yang gugur dalam Perang Uhud, bahkan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pernah menyebutkan keutamaan sujud di atas kuburan Husein bin Ali RA.
7. Ash Shirat al Mustaqim ila Mustahiq at Taqdim
Dalam kitab ‘Ash Shirat al Mustaqim ila Mustahiq at Taqdim’, pendeta Syi’ah bernama Zainuddin Al Bayadhi telah melakukan pelecehan secara khusus terhadap sahabat Utsman bin Affan RA, dengan memfitnah bahwa menantu Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tersebut sebagai orang (maaf) banci, serta pernah (maaf) meniduri seorang tahanan wanita yang akan dihukum rajam.
8. Awa’ilul Maqalaat
Muhammad An Nu’man, salah satu pemuka umat Syiah, menuduh bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang menjadi oposan pemerintahan Ali bin Abu Thalib, adalah sebagai orang yang (maaf) murtad, sesat, terlaknat, dan kekal di dalam neraka jahanam.
9. Bihar al Anwar
Kitab ‘Bihar al Anwar’ karangan Muhammad bin Bagir Al Majlisi, memfitnah ‘Aisyah RA, istri Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sebagai seorang perempuan yang (maaf) lemah iman dan lemah akal.
10. Fashlul Khitab
Dalam ‘Fashlul Khitab’, pemuka umat Syiah bernama Husain Muhammad Ath Thibrisi menulis bahwa kitab suci Al Qur’an yang berada di tangan umat Islam telah mengalami perubahan (modifikasi) dan penyimpangan (distorsi).
11. Hadits al Ifk
Pendeta Syi’ah bernama Abu Ja’far Al Kulaini adalah ‘tukang’ tulis banyak kitab pelecehan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Kitab ‘Hadits al Ifk’ merupakan salah satu karangannya yang menghina kedua istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), yaitu ‘Aisyah RA dan Hafshah RA, sebagai (maaf) perempuan kafir seperti istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS.
12. Haqqul Yaqin
Muhammad Bagir Al Majlisi, seorang tokoh Syiah, dalam ‘Haqqul Yaqin’ menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia membenci para sahabat nabi, terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Aisyah, Hafsah, Hindun, dan Ummul Hakam, serta orang-orang yang mengikuti mereka.
13. Miftahul Jinan
Kitab ‘Miftahul Jinan’ adalah buku panduan wirid umat Syi’ah yang berisi kalimat-kalimat laknat atas 2 ayah mertua Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) (Abu Bakar RA dan UMar RA), serta kalimat-kalimat laknat atas 2 istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) (‘Aisyah RA dan Hafshah RA).
14. Mira’ah al Anwar wa Misykah al Asrar
Kitab ‘Mira’ah al Anwar wa Misykah al Asrar’ karangan Abu Hasan Al Aamili pun juga menuduh para sahabat baginda nabi telah melakukan penghapusan sejumlah ayat dalam Al-Qur’an.
15. Syarh Nahjih Balaghah
Ibnu Abil Hadid, salah satu tokoh Syi’ah, dalam kitab ‘Syarh Nahjih Balaghah’, merendahkan derajat para sahabat Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sebagai orang-orang yang tidak memiliki keutamaan. Bahkan dengan sangat berani ia menuduh dosa para sahabat lebih besar daripada dosa orang-orang dari kalangan non-sahabat.
16. Tafsir al ‘Ayasyi
Muhammad Al ‘Ayasyi, salah satu tokoh Syiah tidak tanggung-tanggung dalam memfitnah kedua istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Al ‘Ayasyi menulis berita dusta bahwa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) meninggal dunia karena (maaf) telah diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
17. Tafsir al Quumi
Ali bin Ibrahim al Quumi dalam kitabnya berjudul ‘Tafsir Al Quumi’, mengatakan bahwa di akhirat kelak 2 sahabat utama sekaligus ayah mertua Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), yaitu Abu Bakar RA dan Umar RA (maaf) meronta-ronta kesakitan akibat siksaan neraka jahanam, serta menuduh janda Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bernama ‘Aisyah RA (maaf) berselingkuh dengan seorang sahabat bernama Thalhah RA dalam perjalanan ke Basrah menjelang terjadinya Perang Jamal.
18. Tafsir ash Shafi
Menurut pemuka umat Syiah bernama Al Faidl al Kasyani dalam kitab ‘Tafsir ash Shafi’, Abu Bakar dan Umar (maaf) telah murtad setelah kematian nabi yang juga menantu mereka, Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam
19. Tahdzibul Ahkam
Dalam ‘Tahdzibul Ahkam’, seorang tokoh Syi’ah bernama Ja’far Ash Shadiq menyatakan, bahwa para wanita dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)) setara derajatnya dengan wanita Majusi dan (maaf) wanita pelacur.
20. Ushul al Kaafi
Di mata umat Islam, Abu Ja’far al Kulaini dikenal sebagai The Character Assassination Maker, mengingat begitu banyaknya kitab karangan tokoh Syi’ah tersebut yang menista Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Salah satunya adalah ‘Ushul al Kaafi’, yang mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah banyak menghapus isi Al Qur’an, sehingga kitab suci terakhir tersebut tidak utuh lagi, 2/3 bagian hilang dan tersisa 1/3 bagian saja.
Sikap Pemerintah RI
Berdasarkan rujukan kitab-kitab di atas (juga kitab-kitab lainnya) yang sarat pelecehan atas kehormatan Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), maka umat Syi’ah tidak akan pernah hidup berdampingan secara harmonis dengan umat Islam. Faktormnya, umat Islam tidak akan pernah rela jika Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) beserta istri, ayah mertua, keluarga, serta para sahabat beliau dinista harga dirinya.
Oleh karena itu, pemerintah RI perlu bersikap tegas terhadap pemeluk agama Syi’ah yang banyak meresahkan masyarakat dengan selalu menghina pribadi, keluarga, dan para sahabat Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), nabi dan rasulnya umat Islam, penduduk mayoritas negara ini. Sebab di mata hukum positif warisan kolonial Belanda yang dianut Indonesia saja, tindakan tercela itu sudah digolongkan dalam ‘religius blemish’ (menodai agama).
Pemerintah patut memperhatikan betapa banyaknya firman Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) dalam Al Qur’an yang mengancam orang-orang yang merusak kehormatan nabi dan rasul-Nya, yang salah satunya adalah, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di
akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al Ahzab : 57)
Ketegasan sikap pemerintah dapat diwujudkan dalam bentuk SK pelarangan ajaran Syi’ah oleh lembaga negara yang berwenang, seperti Kejaksaan Agung RI. Pemerintah Indonesia patut kiranya mengikuti langkah pemerintah Arab Saudi, Yaman, Malaysia, Brunei Darussalam, dan negara-negara lainnya dalam pelarangan Syi’ah demi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Wallahu’alam.*
Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Ichsan
Keterangan: Al Ushul Al Kafi, salah satu kitab hadits rujukan utama Syiah
Rep:
Administrator
Editor:  Abdullah Bin Agil